Minggu, 23 Maret 2008

Bersambung..Posting pertama....

Besok dan besok harus dimulai...terus dan terus.....semangat dan semangat....ayo dan sekali lagi ayo...
Kesedihan Raja Lian.

Oh langit, jika ada adatku yang melangar keinginanmu, aku mohon maaf. Tapi jangan jadikan aku seperti ini. Terpenjara dalam senja, tak malam tak juga siang. Kau telah mengambil rembulan sekaligus matahariku....
Ia tak tau lagi apakah ini pagi atau malam. Karena pagi dan malam tak lagi penting baginya. Ia telah kehilangan Rembulan dan Matahari. Dingin kabut pagi yang menyelinap melalui jendela bertahta dengan cat gemerlap manik-manik tidak berhasil membujuknya untuk menyudahi air mata ataupun sekedar membenamkan diri dalam lelap. Entah bagaimana kalau ada yang melihatnya seperti ini, jubah kuning kebesaranya terus basah menembus hingga di dalam dadanya. Dengan lirih mulutnya kembali melanjutkan desahanya :

Aku raja dihadapan kaumku, namun bukan raja untuk hatiku
Derita demi derita jatuh dari langit, kemarin kau ambil kembali putrimu
dan sekarang kau ambil lagit cahaya kami..

Tubuhnya kembali bergetar, tiba-tiba perlahan demi perlahan cahaya mulai pudar dari pandanganya. Awalnya kabur dan tak beberapa lama hanya kegelapan yang dirasakanya. Setelah semuanya menjadi gelap,kini giliran jiwanya perlahan mulai meninggalkan tubuhnya, menatap jubah kuning ke emasan yang dipakainya, milihat keringkihan dirinya yang sedang dilanda nestapa. Sesok perempuan cantik kini berdiri dihadapanya, Kulit wajahnya putih mulus bersih. Mata cokelat bulat berbulu lentik, dihiasi alis tebal. Pipinya kemerahan manja. Bibirnya merah muda bercahaya berhias senyum yang indah. Rambut hitamnya tergerai panjang tebal, melambai tertiup angin. Suatu panorama indah indah tak bercela, sosok yang begitu dikenalnya kini kembali hadir dihadapanya.
Kenapa paduka begitu bersedih, kalimat itu keluar dari bibir tipis wanita yang dahulu pernah bertahta di hati dan kerajaanya.
Mengapa anda meningalkan aku dahulu, balas tanya Lian dengan gusar sembari mendekati sang putri langit.
Aku hanyalah awal namun bukanlah sebab, karena itu aku terbatas dan terikat pada ruang dan waktu yang diberi oleh sang penyebab.Segalanya hanyalah akibat dari sebab.
Jadi langit sengaja memisahkan kita wahai Putri Vivian, bukankah kau adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirimu?
Kita semua adalah akibat wahai lian,
Oh, karena manusia hanyalah akibat maka langit sedang berbicara padaku tentang kuasanya. Tentang kemampuan kalian mempermainkan kami bangsa manusia, hebat...hebat...betul kalian bangsa langit. Suara Lian terus mengelegar bersama amarah dan baris kalimat ejekannya.
Wajah putih kapas sang putri Vivian kini telah berganti kemerahan, tetes air mata mulai berjatuhan turun diantara kedua belahan pipinya. Ia hanya berjarak beberapa depa dengan Lian yang diagungkan bangsa manusia, Lian yang telah dipilih oleh langit untuk membentuk garis keturunan bangsa baru yang bernama Manusia bersama sedangkan dirinya sebagai Ibu dari peradaban baru itu.
Hati raja Lian sebenarnya mulai luruh melihat Air mata putri Vivian, namun amarah terlalu memuncak dikepalanya atas kejadian yang menimpanya saat ini. Apa salahku pada langit, kenapa mesti aku yang memikul tangung jawab ini. Aku lebih senang dengan kehidupanku sebelumnya sebagai Anturium kaktus hanya berjiwa namun tak punya Cinta. Kau telah merusakku dengan meninggalkanku Cinta, sesuatu yang kurasakan setelah kepergianmu, kepergian putri bambu kuning dan kepergian mange guru. Raja Lian tak mampu langi melanjutkan baris kalimatnya, dadanya seoalah sedang ditindih oleh batu besar tercekak dan meradang, beberapa saat kemudian air mata mulai berjatuhan seperti hujan deras. Dan tanpa disadarinya tubuhnya kini berada dalam kehangatan yang begitu dirindukannya selama beratus-ratus tahun. Ia ingin melepaskan segala kegalauannya, kesendirianya, kelelahanya, amarah dan segala perasaan beban yang dirasakannya. Usapan lembut tangan putri Vivian dikepalnya membuat tangisnya semakin menjadi. Inilah yang dirindukannya selama ini, pancaran energi usapan tangan seorang ibu di atas kepala anak laki-lakinya, seorang Istri dikepala Suaminya yang menjadi jimat meredakan amarah para pria.
”Paduka mesti tau bahwa setiap mahluk semesta selalu di bekali cinta dan Hati, entah itu bangsa manusia seperti paduka, bangsa tumbuhan antrium, bangsa manusia kecil topepe, roh halus seperti Anitu, ataupun suku dua alam Madika lara ngayu dan Madika Tasi. Perlahan Raja Lian mulai merasakan kehangatan yang dirasakannya berkurang sedikit demi sedikit, setelah putri Vivian mengakhiri kalimatnya, kini tak terdengar lagi suara halus Putri Vivian dan aroma kewangian kasturi mulai menghilang dari indera penciumanya. Semakin lama bayangan putri vivian terus menjauh, berganti dengan berkas cahaya yang mulai tertangkap oleh mata raja Lian. Satu persatu sosok pitonggota kini bermunculan dengan tatapan cemas memandangnya. Dibelakang para pitunggota berdiri para sando dengan pakaian serba hitam lengkap dengan ikat kepala yang berwarna sama. Tiba-tiba matanya bertemu dengan sebuah mata yang begitu dikenalnya, mata yang sama dengan putri Vivian yang baru saja di jumpainya. Namun wajah sang pemilik mata tertutupi kain hitam dan balutan tameng yang biasa disebut kaliavo. Kepalanya kembali berat dan matanya perlahan kembali menutup. Terdengar teriakan para penasehatnya memangil-mangil namanya. Para sando yang sibuk meniarkan mantra-mantra, lama kelamaan suara itu mulai terdengar jauh, dan akhirnya lenyap.
Kini bukan sosok Putri Vivian yang berada dihadapanya namun sosok lelaki berjengot putih yang menjutai sampai ditanah, rambut lelaki itu terikat rapi hingga bahu, matanya bersinar terang dan kulitnya bersih, jubah putih panjangnya begitu bersinar. Lelaki itu berbalik dan sembari memberi Isyarat agar ia mengikutinya. Raja Lian nampak ragu-ragu namun akhirnya ia memutuskan untuk berjalan dibelakang mengikuti sosok yang dikenalnya sebagai mange guru. Mulanya yang dilihat Raja Lian adalah hamparan kuburan yang tenang, batu-batu nisan yang berjejer, roh-roh halus bangsa Anitu yang sedang tersenyum riang .Beberapa diantara mereka sedang asik bermain sanjilo ( petak umpet) bersembunyi di balik bebatuan besar dan saling menembak.
Tak beberapa lama suasana berubah, kini ia telah berada dipemukiman topepe, sosok manusia-manusia pendek yang sedang sibuk bekerja menumbuk padi di lesung yang oleh bangsa manusia disebut alu, anak-anak topepe yang berlarian kesana kemari sambil tertawa riang. Tanpa sengaja Lian melihat sekelompok pengrajin bangsa topepe yang sedang sibuk merangkai rantai putih ke emasan yang mata rantainya terdiri atas empat buah. Raja Lian berjalan mendekati para topepe yang sedang sibuk bekerja , awalnya ia berjalan perlahan tanpa suara takut kalau kehadiranya disadari oleh para suku cebol. Namun tanpa sengaja salah seorang dari anak yang sedang berlarian menabrak tubuhnya, Raja lian begitu terkejut. Ketakutan segera menyelimuti dirinya, Ia telah bersiap-siap untuk berbalik dan segera meningalkan tempat itu. Namun kemudian ia tersadar anak itu telah melewati tubuhnya tanpa merasakan benturan sama sekali. Apakah sekarang aku tinggal jiwa? Pertanyaan itu tiba-tiba masuk dalam alam pikir Lian, belum sempat ia berpikir lebih jauh cahaya ke emasan tiba-tiba memancar sempurna dari ke empat mata kalung. Pancaran ke emasan itu menarik para Topepe yang lain untuk segera berhenti beraktifitas, anak-anak berhenti berlarian, para penumbuk padi berhenti bekerja dari kejauhan raja lian mendengar suara terompet bergema. Disusul suara pukulan gong yang nyaring. Beberapa orang kerdil nampak berlarian, pakaian mereka berbeda dengan yang lainya dengan ikat kepala hijau yang berwarna keemasan. Salah seorang dari mereka menaiki podium lapangan terbuka yang berada tepat didepan rumah kerajinan.
Pemimpin bangsa topepe, pahlawan pejuang kemerdekaan umat semesta, ia yang dengan guma pendek bertahta emas berkenan menyampaikan petuah, suara sang hulubalang terdengar cempereng namun begitu sakti. sebuah pemandangan maha syahdu terpampang di hadapan raja lian, lapangan yang tadinya hanya diisi oleh beberapa anak-anak yang berlarian kini telah penuh dengan puluhan, ratusan dan dalam sekejap mencapai ribuan mahluk kerdil. Tak pernah ia menyaksikan jumlah Topepe sebanyak itu, mereka berbaris rapi, suasana senyap semakin menjadi. Hanya langkah salah seorang mahluk cebol yang terdengar, jubahnya hijau keemasan dengan gelang dan cincin permata yang terlihat begitu indah. Langkahnya teratur menuju podium. Raja Lian mengenal sosok itu, sahabat lama yang sudah lama tak pernah ditemuinya. Tanpa sadar sebagai bentuk penghormatan Raja Lian membungkukan kepalanya, Ia tak peduli apakah Pemimpin Topepe melihatnya atau tidak.
”Saudara-saudaraku, suku yang terkenal karena kecakapannya, kerajinannya dan sumbangsihnya bagi peradaban alam langit dan alam bawah, bagian dari tiga dimensi kehidupan. Hari ini aku ingin menyampaikan sesuatu perkara yang begitu penting bagi peradaban seluruh umat semesta, hari ini bangsa kita kembali menyumbangkan sebuah maha karya bagi perdamaian, ikatan hati bahkan lebih dari sekedar itu semua ”Cinta untuk semesta”yang kita persembahkan lewat rantai Nosarara. Rantai Nosarara adalah bentuk ikatan empat suku bangsa semesta. Ke empat mata rantai yang baru saja anda saksikan kilaunya adalah lambang dari empat suku semesta. Penguasa langit telah mempercayakan pada kita untuk membuat rantai itu dan seperti anda semua saksikan tugas itu telah selesai dengan berkilaunya rantai Nosarara. Aku berterima kasih kapada para abdi istana yang telah setia menempa rantai Sarara yang sebentar lagi akan dipersembahkan pada pertemuan Madika Sanjayo pada purnama terakhir.
Seperti patung yang diawetkan, raja Lian terhenyak akan pristiwa yang baru saja disaksikan. Tentang kerja keras dan sumbangsih para pembuat kalung, tentang raja yang arif yang bersedia memberikan karyanya bagi perdamian semesta tentang...belum sempat dia melanjutkan pikiranya yang berkelabat dia seolah tersadar akan sesuatu. Mange Guru telah berada disampingnya dan memberikan isyarat untuk terus mengikuti perjalananya. Dengan terpaksa Lian mengikuti langkah mange guru, mulutnya yang semula terkunci kini mulai berani ”kita hendak kemana paman guru ”?Pertanyaan yang dari tadi hendak ditanyakannya namun baru kali ini dia dipenuhi kebernaian untuk mengatakannya. Tak ada jawaban dari sang guru, merasa tak diperhatikan Lian kembali bertanya dengan sedikit mengeraskan suaranya, kita hendak kemana Guru.., sang guru terus berjalan tanpa menoleh sama sekali.Karena kesal tak mendapat jawaban raja lian kemudian menghentikan langkahnya. Aku tak mau ikut kalau kau tak menjawab pertanyaanku. Tegas lian yang nampak kesal karena tak diperhatikan. Sang guru menoleh dan tak memberikan jawaban apa-apa dan terus melangkah. Ditengah kekesalan yang memuncak lian kemudian berteriak ”aku raja tanah diberkahi, diberi kekuasaan oleh langit untuk membentuk suku paling mulia di semesta, memimpin semua suku yang ada dan kini kau membawaku seolah kerbau yang ditarik menuju tanapopae. Sang Guru kini menoleh, menatap raja lian dengan kekesalan. Belum pernah ia menyaksikan manusia agung itu marah semenjak ia pertama kali bertemu, ia yang dititipkan kerajaan langit untuk membimbingnya, mengajarinya beragam ilmu dan kepandaian untuk membentuk suku baru manusia. Sadar akan kemarahan sang guru, lian segera menunduk sambil berkata lirih; aku mohon maaf bila lancang kepadamu. Sang guru terus berjalan kini lian telah berada dibelakangnya tak berani menanyakan apapun.
Kini perjalanan mereka memasuki hutan belantara, tempat pohon-pohon besar dan binantang buas berkeliaran. Burung-burung sedang berkicau mesra membentuk suara merdu, beragam jenis ular sedang melingkar diatas pepohonan. Raja lian terus mengikuti langkah mange guru menyusuri hutan belantara, menembus sosok kerajaan hutan yang terkenal buas. Kondisi kerajaan puenggayu memang terkenal disejegat alam selalu menyimpan mara bahaya.
Perjalanan mereka memulai memasuki daerah yang lembab. Beberapa buah pinang mulai berjatuhan. Dua ekor kus-kus berlarian di depan lian, sibuk mengejar serangga yang berkeliaran. Sedangkan beberapa kus-kus lainya memanjat dahan pohon mencari telur burung yang ditinggal induknya didalam sarang. Tiga meter dari lian berjalan, sebuah gua harimau dengan dua bunian berdiri diantara mulut gua. Tubuh para bunian besar dan tinggi, mulut mereka lebar dan rahang yang menyerupai tengkorak orang hutan. Kedua sisi gigi para bunian memilki taring panjang yang membuat wajah mereka begitu menakutkan. Lian terus mengikuti langkah gurunya memasuki Gua dua bunian seolah tak melihat kedatanganya dan sang guru. Apakah aku tinggal jiwa ? Pikiran itu segera muncul kembali dikepala lian, mengapa aku tak terlihat? apakah aku sudah mati ? Susul menyusul pertanyaan hinggap dikepalanya , sementara Lian terus mengikuti kedalam gua. Memasuki mulut gua beberapa obor tertempel menjadi penunjuk jalan, pada awalnya tanah yang di lalauinya terasa kaku dan keras, namun ketika memasuki pertengahan gua semuanya terasa becek oleh jatuhan stalagnit. Aroma tak sedap juga mulai bermunculan beberapa bangkai binatang nampak disepanjang jalan. Lian mulai menerka ini pasti sisa hewan hutan yang menjadi buruan para bunia. pada sisi dinding gua lian melihat beberapa kepala rusa menempel, tiga diantaranya masih mengeluarkan darah tanda bahwa rusa itu baru saja di potong. Semakin dalam lian masuk ke dalam gua cahaya semakin terang dan kini lian tak melihat lagi sosok paman guru yan telah menghilang diantara bebatuan gua. Sampai akhirnya terdengar suara teriakan yang menggema diantara tembok gua. Aku tak mau memberikan darah anoa kami untuk kesaktian rantai itu . Kami adalah bangsa terhormat, mulia dan paling ditakuti bangsa semesta. Lian penasaran dengan asal suara itu, dipercepatlangkahnya menuju sisi kiri goa yang diyaknininya asal dari teriakan itu. Sesok Bunian dengan tubuh enam kali dari manusia sedang berdiri dihadapnya yang menatap marah lawan bicaranya. Raja lian mengucek sejenak kedua matanya untuk memperjelas apa yang disaksikanya. Raja Lian begitu terkejut dua sosok mange guru berdiri berseblahan dan saling menghadap pada Raja bunian yang bergelar madika laranggayu. Tubuhnya dan dua tubuh mange guru begitu kecil bila dibandingkan raja bunian yang bertubuh seperti gajah. Salah seorang dari mange guru menatapnya penuh arti. Lian tak berani berbicara takut kalau kehadiranya terlihat oleh raja bunian yang mengamuk. Dia begitu mengerti kondisi raja bunian yang pemarah itu, kalau sedang marah semua akan dihancurkanya termasuk mungkin dirinya. tak beberapa lama sosok mange guru yang kedua mulai terdengar berbicara dengan tenang sementara mange guru yang bersamanya dari tadi kini berjalan mendekatinya.
Apakah kau tak lelah berperang wahai madika? apakah kau tak bosan menumpahkan darah suku lain untuk kepuasaan penaklukanmu, apakah kau tak bosan memakan daging bagsa topepe yang kau akui sendiri tak seenak binatang?apakah kau tak sedih satu persatu pasukanmu dikenai doti kerajaan terlarang yang muncul akibat kalian tak saling berdamai. dan Apakah kau tak malu pada langit telah beberapa kali kau diberi peringatan lewat banjir besar yang membunuh ratusan anakmu!
Kini langit ingin kedamain dan kau menolaknya. Suara mange guru pelan tapi pasti mulai menekan raja bunian. yang membuat raja bunian terdiam dan beberapa saat kemudian menimbulkan getaran dasyah. buk!!! kembali bebatuan berjatuan kali ini lebih banyak, bumi kemudian begetar bagai gempa dasyahat.Lian berusaha bersandar di dinding gua takut dirinya terpental. Baiklah to langi, kalau itu kehendakmu aku akan melakukan pengorbanan ano hari ini juga, sebagai sumbangsih kami bagi peradaban, sebagai bukti kami para bunian masih memilki hati dan benci peperangan. Suara madika larang gayu mulai melemah dan tak menimbulkan getaran lagi. Kini tanganya telah ditarik oleh mange guru mengajaknya keluar dari gua. Raja lian terpukau akan fragmen yang baru saja dilihatnya. Hati kecilnya berdesir ”teryata apa yang dikatakan putri Vivian adalah benar, langit telah membekali semua bangsa semesta dengan hati dan mungkin saja cinta. Setelah keluar dari mulut gua untuk pertama kalinya mendengar paman guru mengeluarkan kata-kata. Aku berpikir telah mengajarkanmu semua hal namun sepertinya kau mesti kembali belajar lagi jadi manusia wahai lian! Apa maksut anda paman guru? lian menjawab merasa dirinya diremehkan. Belajar lagi jadi manusia! Lian terdiam, mulutnya seolah terkunci oleh ucapan penegasan sang guru ! Ia tak berani lagi berkata. Paman guru terus berjalan menuruni gua, meninggalkan suara para bunian yang mulai menambuh gendang pengorbanan, upacara pelepasan anoa yang mereka cintai. Lian tak mau berlama-lama lagi, sembari berlari kecil dia mengikuti sang guru.
Setelah keluar dari hutan para bunian, kini mereka telah sampai disebuah lembah yang gelap. Suasana tak wajar tiba-tiba saja menyelinap, dingin dan beku. Sosok-sosok aneh yang tak terlihat terasa bergerak-gerak, ini alam apa tanya lian dalam hati. Tiba saja dalam kegelapan sebuah burung gagak hitam melintas didepan matanya. Ketakutan segera saja menyelinap dalam batinya, setelah melihat gagak hitam yang melintas. Ia sadar ini adalah sebuah penanda buruk. Kepalanya tiba-tiba begitu berat dan terasa sakit yang belum pernah dirasakan sebelumnya, dadanya bagaikan dihujam palu godam dan perutnya tiba-tiba terasa begitu mual. Tak beberapa lama sosok berjumbah hitam dengan tubuh yang mirib dengan ukuran tubuh manusia melintas. Kepala mahluk-mahluk itu tak menyatu dengan lehernya, mata mereka merah dan mulut mereka nampak sedang mengunyah sesuatu yang berbentuk hati manusia. Kaki raja lian bergetar, belum pernah ia merasakan ketakutan seperti ini. Dipaksakanya untuk terus melangkah walau terhuyung, rasa sakit dikepalanya semakin menjadi. Ingin rasanya ia segera menutup matanya untuk tak melihat sekelilingnya yang begitu menyeramkan. Mange guru tak terlihat lagi, sebuah tiang panjang tertangkap dimatanya di tiang yang dari batang kelapa itu tergantung sosok-sosok ia kenal. Topepe, manusia halus anitu, pue laranggayu, pue ntasi dan terakhir dirinya. Ia seolah sedang melihat kematian, perutnya terasa mual. Sesosok tubuh dengan bermata mata merah menyala menatapnya dengan amarah. Ia melihat api di mata orang itu, lian semakin ketakutan dan tanpa sadar ia berterik mengucap mantra yang diketahuinya, bayangan dengan jubah hitam dan kepala terpisah itu semakin mendekat, mantera yang di ucapkanya tak ampuh melumpuhkan manusia jadi-jadian itu. Tanganya segera mencari sesuatu di pinggulnya namun ia sadar tak membawa guma. Kini kepala mahluk itu terlepas dari tubuhnya melayang mendekati wajahnya, lolongan anjing yang menanggis terdengar seolah mengantarkan kematianya. Aroma desahan nafas kepala mahluk itu tinggal beberapa jengkal dari wajahnya, lian berteriak ketakuatan. Ah.....!!! Teriakan lian mengejutkan para penasehatnya yang telah dua hari tak tidur mencemaskan raja tanah diberkahi yang mati suri. Pue..pue, suara baligau membuatnya tersadar namun memberikan kelegaan dari ketakutan yang baru saja dialaminya. Nafasnya masih memburu, sosok kematian itu begitu menakutkan. Cepat ambilkan air minum, perintah baligau pada beberapa pelayan yang berdiri cemas. Sebuah gelas perunggu berisi air dibibir Lian, Ia segera menegak semua isi perunggu itu. perlahan lian memperbaiki tarikan nafasnya. Setelah debaran jantung dan nafasnya mulai teratur, Tangan kananya terangkat memberi isyarat yang diikuti oleh para sando dan pelayan yang melangkah menuju pintu keluar kamar . Para pitunggota nampak saling berpandangan, apakah isyarat itu berlaku pula pada mereka. Belum sempat pikiranan itu berkembang dibenak para penasehat. raja lian telah mengeluarkan kalimat pertamanya setelah lima hari tak berbicara dengan siapapun. “Kalian tetap disini” ! pinta raja lian kepada tujuh penasehatnya yang terlihat ragu apakah mesti tinggal atau keluar. Ada hal penting yang akan aku bicarakan. Ketujuh penasehat kerajaan merapat mendekati raja lian yang masih terbaring, untuk mendengar berita atau perintah yang akan keluar dari mulut paduka tanah diberkahi .

Misteri Tadulako I Hilangnya Rantai Nosarara dan Kemunculan Topeule

Duka Tanah yang diberkahi
Arak awan hitam menyelimuti Kerajaan Tanah Kainggurui yang diberkahi, hujan deras tak henti-hentinya turun bersama gelegar petir serta Guntur yang saling memburu. Aroma duka begitu terasa di seluruh bagian istana, tak ada tawa riang atau pesta. Gelas-gelas perunggu seolah dibiarkan kosong, sementara hawa dingin merasuk bersama angin yang berhembus menembus pori-pori. Suasana tak wajar sedang menari-nari menembus setiap sisi kerajaan.
Sementara itu diLobo Istana Kainggurui, tujuh orang penasehat sedang berkumpul, bersama meja panjang ditengahnya dengan posisi duduk membentuk lingkaran.
”Aku harus bicara pada raja sekarang Baligau, agar Ia tak salah paham tentang kondisi yang berlaku- ujar salah seorang peserta pertemuan yang dikenal sebagai Madika Malolo.
”Belum saatnya dia masih berduka akan nestapa yang berlaku pada bangsa kita, biarkan dia sendiri saat ini timpal lelaki berjenggot yang terlihat paling tua dari mereka.
”Tapi Madika Matua sampai kapan kita mesti bersedih tanpa melakukan apa-apa, tegoklah para sando mereka sama dengan raja kita menghilang begitu saja entah kemana dan saat ini kita bertujuh sebagai Pitunggota yang dipercaya sebagai penasehat malah dibiarkan kebingungan menghadapi masalah besar yang akan terjadi
”Belum sekarang untuk segera menyampaikan ini pada raja, ujar seorang lelaki dengan perawakan tegap namun memancarkan aura kebijaksanaan. Dialah sang pemimpin pertemuan para penasehat itu yang dikenal sebagai Maligau. Ini tawaranku bagaimana dengan kalian? semuanya akhirnya menganguk, termasuk madika malolo yang tadinya terlihat begitu bersemangat mengajukan usulan agar segera bertemu raja Lian. Baris kata sang Maligau seolah memiki kekuatan tersendiri yang mampu menyerab seluruh energi diruangan para penasehat itu.
Pabicara..., ujar maligau pada seorang yang berperawakan paling rapi diantara ketujuh penasehat.
Saya Maligau,
Adakah kau memberi usul pada pertemuan ini?
saya hanya ingin membacakan puisi saya, itupun kalau diberi izin para hadirin dan hadirat.
Seluruh peserta pertemuan tanpa dikomando secara serentak menjawab “ya”
Mendapat persetujuan para hadirin pabicara segera membacakan syairnya :
Runtun demi runtun keberkahan di cabut dari negeri kalinguru
adakah langit menaruh dendam, bukankah dia juga jadi awal dari segala sebab-musabab- kami tak dapat berkata, apa yang sedang berlaku disini tikam menikam bencana muncul dan kami hanya bisa beradu pikir bak petir dan guntur yang beradu jago.
oh, apa lagi yang kami punya selain ikatan hati yang telah kau ambil,
perkara ini telah dimulai dari sini, tempat para cerdik pandai berkumpul dan mungkin saja akan bersusul tikam menikam kaum jelata...

Ruangan hening senyap, setelah Pabicara mengakhiri baris kalimatnya, seoalah mereka telah ditikam sebuah kecemasan yang mereka mulakan. Sebagaimana pesan para tetuah, ”sebuah alamat kehancuran sebuah negri jika para cerdik pandainya mulai berdebat dan berkalahi untuk sebuah soal”.

Tadulako, Madika Malolo, Madika Matua, Ponggawa, Galara, , Pabicara, dan kau Sabandara apakah punya usulan, ujar malingau memecah keheningan sembari mengabsen satu persatu anggota dewan kerajaan.
Ketujuh penasehat itu hanya menjawab dengan gelengan kepala. Membentuk Isyarat yang langsung dimengerti maligau.
Baiklah kalau begitu persoalan yang sudah kita bahas tadi, baru akan kita sampaikan ketika raja Lian telah siap secara lahir dan batin, selepas dua duka yang menimpanya. Kita semua sadar kepergian permaisuri tangkai bambu kuning dan wafatnya Mange Guru telah membuat hatinya begitu sedih. Kita semuanya sadar dirungan ini kita dipilih menjadi dewan kerajaan karena kita bisa dipercaya menasehati dan menjaga apa yang mesti dijaga.
Baris-baris kalimat yang meluncur dari mulut Maligau seolah menembus dada ketujuh penasehat kerajaan.
”Oh yah.., malibu melanjutkan baris kalimatnya yang terpotong, utamanya Masalah rantai Nosarara tolong jangan sampai keluar dari lobo ini, kita mesti menguncinya rapat dan sampai raja tau apa yang akan terjadi setelah bangsa kita kehilanganya.